Kuliner

Nasi Jamblang, Kuliner yang Unik Kebanggan Warga Cirebon

Wisata kali ini, kami ingin menyusuri kota Cepu, Blora dan Rembang. Kami menginap di Cepu menemani salah seorang teman yang suaminya  menjadi dosen tamu di Akamigas. Rencana awal ingin naik  kereta api sebagai sarana mengunjungi tempat-tempat tersebut. Berhubung tiket hanya dapat untuk berangkat saja, akhirnya diputuskan menggunakan mobil. Agar memudahkan dalam berangkat, kami menginap di salah seorang teman yang memiliki mobil.

Perjalanan kami yang pertama menggunakan menggunakan jalan tol, kemacetan di Bekasi membuat lambat perjalanan. Selanjutnya, tidak ada hambatan sampai Cirebon memenuhi undangan sahabat kami yang tinggal di Cirebo untuk sarapan. Kuliner pilihan tuan rumah yang diperkenalkan kepada kami adalah nasi jamblang. Nasi jamblang merupakan kuliner yang berasal dari desa Jamblang, yang terletak di pinggiran kota Cirebon. Kuliner lokal ini termasuk dalam 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia (IKTI).

Nasi jamblang ini sudah ada sejak zaman Belanda masih menjajah Negara kita. Nasi ini awalnya sebagai makanan pekerja paksa yang membangun jalan raya Anyer-Panarukan, pada pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-36 yaitu Herman Willem Daendels

Untuk  membangun jalan raya ini mengerahkan ratusan pekerja sehingga untuk memenuhi kebutuhan makanan. masyarakat Jamblang membuat nasi yang dibungkus dengan daun jati. Pada awalnya Nasi jamblang hanya dengan lauk sederhana seperti tahu, tempe, dan sambal. Hingga saat ini lauk  nasi jamblang telah menjadi sekitar 40 jenis. Akhirnya masyarakat memberi nama kuliner ini dengan sebutan nasi jamblang dan menjadi kebanggaan warga Cirebon.

Suguhan sarapan nasi jamblang di salah satu rumah makan pilihan tuan rumah. Ketika kami datang, pengunjung belum ramai mungkin karena masih pagi dan baru buka. Namun, jika mengunjungi saat makan siang, kondisi sangat berbeda. Pengunjung yang datang harus rela menunggu giliran untuk bisa memesan dan menikmati nasi Jamblang.

Kami masuk ke tempat yang cukup bersih, terlihat beberapa pembeli sedang antre untuk memilih berbagai lauk yang dihidangkan di meja yang panjangnya sekitar 3 meter. Cara menyajikan makanan khas rumah ini dengan mengambil sendiri lauk yang kita inginkan.

Rombongan kami ikut mengantre dari belakangnya. Aroma daun jati dan beberapa jenis makanan  tercium sangat menggugah selera. mulai dari tempe, telur, ikan, ayam, pepes dan lain-lain. Seorang pekerja siap dengan piring  berisi nasi yang dilandasi daun jati.

Dari dahulu memang menggunakan daun jati bukan plastik, daun pisang, atau daun yang lain. Daun jati ini mengeluarkan aroma khas yang menjadi ciri nasi ini berbeda dengan nasi yang lain.

Nasi disajikan dalam porsi kecil seperti ukuran nasi kucing, jika secara sekilas tidak terlihat  perbedaan antara nasi jamblang dengan nasi putih pada umumnya. Namun, daun jati yang digunakan sebagai pembungkus nasi menjadi ciri khas kuliner unik yang membedakan dari nasi yang kita konsumsi sehari-hari. Rasa yang lebih gurih dan aroma yang sedap yang akan membuat pencinta kuliner ini ingin kembali lagi.

Jangan takut bagi yang merasa kurang dengan ukuran nasi kucing ini, bisa minta tambah lagi. Sebelum piring tersebut diserahkan ke pengunjung, karyawan menawarkan sambal sebagai teman nasi. Tawaran bisa kita tolak jika memang tidak menyukai makanan pedas. Kemudian kami bebas memilih lauk. Terakhir, memilih minuman dan langsung ke kasir. Kasir menghitung yang kita ambil untuk dibayar. Jadi, alur makan nasi jamblang sebelum siap disantap, dimulai dengan menentukan jumlah nasi sesuai dengan porsi kita dan sambal. Selanjutnya, pilih lauk dan minum, dihitung makanan yang kita ambil, mencari tempat duduk untuk menikmati sajian nasi jamblang.

Beruntung, kami bisa langsung menikmati nasi Jamblang karena dengan mudahnya kami mendapat tempat duduk. Tempat duduk yang unik, antara meja dan kursi tingginya tidak jauh berbeda. Jadi, bagi yang memiliki  tubuh yang tinggi harus membungkuk ketika akan menyuap makan ke mulut, atau bisa dinikmati dengan cara piring tidak ditaruh di meja tapi kita pegang.

Soal harga tidak akan membuat kantong menjadi bolong, mahal atau murah yang kita bayar sesuai dengan pilihan kita. Walaupun kita bisa memilih makan yang tersedia, perlu bijak dalam menentukan pilihan agar tidak mubazir. Jadi, sesuai dengan kebutuhan dan dana yang tersedia.

Sayang, kami hanya mampir sebentar untuk sarapan, suatu saat akan kembali lagi untuk mencoba kuliner lain khas Cirebon.

Author

liesdiana.yudiawati@gmail.com

Comments

Februari 20, 2019 at 9:12 am

Nasi Jamblang itu kesukaan, jadi duh duh nikmatnya itu loh nggak tahan hujan-hujan bawaannya jadi laper



Februari 20, 2019 at 1:47 pm

Dulu pas ke Cirebon, suamiku yg nyobain. Aku sendiri yang lebih familiar dgn daun pisang nggak ikutan icip, hehee tapi setelah baca ini jadi pengen juga nti nyoba ahh.



Februari 20, 2019 at 1:51 pm

Aku belum pernah bun nyobain nasi jamplang ini. Tapi liat gambarnya jadi pengennnnn. Apalagi kalau ada sambel gtu. Maknyussss



Februari 20, 2019 at 2:47 pm

Aku juga suka beli nasi jamblang pas kerja dulu, maklum deket kantor ada resto cirebonan gitu mbak. Aku di Bandung tepatnya restonya di jalan sadakeling. Muraah mbak



Februari 20, 2019 at 5:32 pm

Lhah ada latarbelakang sejarahnya toh. Baru tahu bahwa dinamakan Nasi Jamblang, karena dari daerah Jamblang. Pernah juga sih waktu ke Cirebon, makan Nasi Jamblang. Seru aja, porsinya kecil, lauknya macem-macem…



Februari 20, 2019 at 11:50 pm

Baru tahu, rupanya nama nasi Jamblang diambil dari nama daerah asalnya. Hihihihi. Aku agak kupdet rupanya. Dialas dengan daun jati, rasA tradisional pasti lebih terasa ya.



Februari 21, 2019 at 1:36 am

Alas daun jatinya itu bikin tambah sedeeep. Tak tergantikan aromanya. Bahkan oleh piring keramik semahal apapun. Jadi pengen nyoba kuliner khas cirebon ini.



Februari 21, 2019 at 5:05 am

Aku sebenernya suka nasi jamblang ini Bun, cuma agak kurang klik aja sama nasinya yang dingin hehehe. Maklum kebiasaan makan di rumah nasi anget. Kalo ke Cirebon lebih suka nyari empal gentong aja jadinya.



Februari 21, 2019 at 8:24 am

Wah, unik nih nasi Jamblang-nya. Secara sekarang susah menemukan daun jati. Sama seperti daun pisang, ya. Makanan yg dialasi atau dibingkai daun secara alami begitu memang jadi khas rasanya.
Nice info, Bun 🙂



Februari 21, 2019 at 11:38 am

Kangen ih,sudah lama tidak ke Cirebon.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *